UNTUK PARA SUAMI SEJATI
BAGIAN 1
"Surat
dari Suami Buat Para Suami"
Setelah
selesai pembahasan 10 wasiat utk istri Idaman suami shalih, biar berimbang
berikut ini ana ketenggahkan artikel " Untuk Para Suami Sejati" ,
pembahasan ini ana nukilkan dr artikel yg panjang dan bersambung dr www.firanda.com , yang ditulis oleh Al Ustadz Abu
Mukhsin Firanda Andirja, Lc.MA ,
Kehidupan rumah tangga yang penuh
kemesraan dan kebahagiaan tentunya merupakan dambaan semua orang. Kehidupan
yang dipenuhi ketenteraman jasmani dan rohani, penuh dengan keimanan dan
kemesraan. Namun kenyataan yang terjadi… betapa banyak orang yang
kehilangan kebahagiaan ini…???,
bahkan yang lebih parah…betapa
banyak kehidupan rumah tangga yang harus berakhir dengan perpisahan dengan
penuh kebencian…???.
Kebahagiaan yang tadinya sangat
diharapkan akhirnya berakhir dengan permusuhan di antara dua sejoli…???
Sebagian rumah tangga bisa
berjalan tanpa perpisahan, namun….tidak ada aroma kemesraan…, tidak ada kasih
sayang…., tidak ada canda…., tidak ada tawa….???. Kehidupan yang terasa
kaku…..!!!
Bukankah rumah tangga adalah
sarana yang sangat memungkinkan untuk meraih kebahagiaan di antara dua
sejoli…???
Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً
لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي
ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم : 21
“Dan
diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS.
30:12)
Namun yang menjadi pertanyaan
kenapa sering didapati rumah tangga yang kosong dari kemesraan… yang ada
hanyalah kekakuan…???
Tentunya sebab-sebab timbulnya
hal ini banyak, namun sebab utama yang biasanya terjadi adalah kedua pasang
sejoli atau salah satunya tidak menunaikan tugas-tugas rumah tangganya dengan
baik sesuai dengan syari’at Islam.
Adapun tulisan yang ada dihadapan
para pembaca yang budiman terfokus pada bagaimana usaha untuk bisa menjadi
suami yang sejati…???. Suami yang didambakan setiap wanita…, suami yang
dimimpikan oleh setiap istri..???
Tentunya keberadaan suami yang
sejati yang menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang suami merupakan
sebab utama kelanggengan romantisnya kehidupan rumah tangga. Apalagi
permasalahan perceraian berada di tangan seorang suami…!!
Namun yang sangat menyedihkan,
kita dapati sebagian suami memiliki sikap ingin menang sendiri…, dia ingin
istrinya menjadi istri yang sholehah yang mentaati semua perkataannya…yang
tidak pernah protes…yang memahami dan mengamalkan sabda Nabi shallallahu
'alaihi wasallam:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ
الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Kalau seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya”. HR AT-Thirmidzi no 1159, Ibnu Majah no 1853 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (Lihat As-Shahihah no 3366)
Sang suami ingin agar istrinya
selalu berpenampilan menarik dihadapannya… dan masih banyak keinginan yang
lainnya…
Namun di lain sisi dia sendiri
tidak memperhatikan penampilannya tatkala berhadapan dengan istrinya…sama sekali
tidak mau mengalah di hadapan istrinya….sekakan-akan jika ia telah memberi
nafkah kepada istrinya berarti telah selesai tugasnya…!!!!, apakah demikian
sosok Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang suami
teladan…???. Apakah Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat
disibukkan dengan urusan dakwah dan urusan negara melalaikan
istri-istrinya..???.
BAGIAN 2
Wahai para suami renungkanlah
sabda dan nasihat Nabi kalian Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam, suami
teladan umat ini…
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku” (HR At-Thirmidzi no 3895 dari hadits Aisyah dan Ibnu Majah no 1977 dari hadits Ibnu Abbas dan dishahihakan oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 285))
Beliau shallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
“Orang
yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling
bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik
akhlaknya terhadap istri-istrinya”. (HR At-Thirmidzi no 1162 dari hadits Abu
Hurairah dan Ibnu Majah no 1987 dari hadits Abdullah bin ‘Amr, dan dishahihkan
oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 284))
Hadits yang sangat agung ini
banyak dilalaikan oleh para suami…padahal hadits ini dengan sangat jelas
menunjukkan bahwa menjadi seorang suami yang terbaik bagi istrinya merupakan
tanda baiknya seseorang???, tidak cuma sampai di sini, bahkan merupakan tanda
sempurnanya keimanan..???
Oleh karena itu Imam Malik
berkata, “Wajib bagi seorang suami
berusaha untuk menjadikan dirinya dicintai oleh istri-istrinya hingga ialah
yang menjadi orang yang paling mereka cintai” (Faidhul Qodiir
III/496, Al-Munawi berkata, “Di kitab Tadzkiroh Ibnu ‘Irooq, dari Imam
Malik)
Berkata Syaikh Abdul Malik
Romadhoni:
((Hadits ini adalah hadits yang sangat agung, banyak orang lalai akan agungnya kandungan hadits ini. Tatkala wanita adalah sosok yang lemah maka seorang lelaki diuji dengan wanita, karena barangsiapa yang akhlaknya sombong dan keras maka akan nampak akhlaknya tersebut tatkala ia menguasai orang lain.
Dan seburuk-buruk penguasaan adalah terhadap sosok yang lemah yang berada dibawah kekuasaannya.
((Hadits ini adalah hadits yang sangat agung, banyak orang lalai akan agungnya kandungan hadits ini. Tatkala wanita adalah sosok yang lemah maka seorang lelaki diuji dengan wanita, karena barangsiapa yang akhlaknya sombong dan keras maka akan nampak akhlaknya tersebut tatkala ia menguasai orang lain.
Dan seburuk-buruk penguasaan adalah terhadap sosok yang lemah yang berada dibawah kekuasaannya.
Orang yang akhlaknya buruk dan
rendah serta kurang kasih sayangnya akan terungkap akhlaknya tatkala ia
bermu’amalah dengan orang-orang yang lemah. Bahkan sikap menguasai (semena-mena)
terhadap orang-orang yang lemah adalah (pada hakikatnya) merupakan sikap sosok
yang lemah (kepribadiannya).
Kalau mereka memang kuat
(kepribadiannya) dalam akhlak mereka maka hati mereka tidak akan keras terhadap
orang-orang yang membutuhkan kasih sayang. Barangsiapa yang bisa menguasai
dirinya tatkala berhadapan (bermu’amalah) dengan mereka (orang–orang yang
lemah) maka akan nampaklah kemuliaannya.
Oleh karena itu Al-Mubarokfuri
berkata dalam Tuhfatul Ahwadzi (IV/273) tatkala menjelaskan lafal hadits yang
kedua (di atas), “Karena mereka (para wanita) merupakan tempat untuk meletakkan
kasih sayang disebabkan lemahnya mereka”…)) (Al-Mau’idzoh Al-Hasanah hal 75)
BAGIAN 3
Sebagian orang bingung kenapa
seorang yang baik terhadap istirinya maka ia merupakan orang yang terbaik???
Berkata As-Sindi, “Dan bisa jadi orang yang disifati dengan
sifat ini (baik terhadap istri) akan mendapatkan taufiq (dari Allah) pada
seluruh amalan sholeh hingga jadilah ia terbaik secara mutlaq” (Sebagaimana
dinukil oleh Syaikh Abdul Malik Romadhoni dalam Al-Mau’idzoh Al-Hasanah hal 75)
Berkata Asy-Syaukani, “Sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam
((Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istri-istri mereka)) dan juga
pada hadits yang lain ((Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap
istrinya)), pada kedua hadits ini ada peringatan bahwasanya orang yang tingkat
kebaikannya tertinggi dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan
adalah orang yang terbaik bagi istrinya.
Karena istri adalah orang yang
berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik,
pemberian manfaat dan penolakan kemudhorotan. Jika seorang lelaki bersikap
demikian maka dia adalah orang yang terbaik, namun jika keadaannya adalah
sebaliknya maka dia telah berada di sisi yang lain yaitu sisi keburukan.
Banyak orang yg terjatuh dalam
kesalahan ini, engkau melihat seorang pria jika bertemu dengan istrinya maka ia
adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan yang paling sedikit
kebaikannya. Namun jika ia bertemu dengan orang lain (selain istrinya) maka ia
akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak
kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan lagi barangsiapa yang demikian
kondisinya maka ia telah terhalang dari petunjuk Allah dan telah menyimpang
dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah.” (Nailul Author
VI/360)
Berkata Syaikh Abdul Malik: (Betapa banyak kita dapati seseorang tatkala
bertemu dengan sahabatnya di tempat kerja maka ia akan bersifat mulia dan
lembut, namun jika ia kembali ke rumahnya maka jadilah orang yang pelit, keras,
dan menakutkan !!!
Pdahal orang yang paling berhak
untuk ia lembuti dan ia baiki adalah istrinya…hakikat seseorang lebih terungkap
di rumahnya daripada tatkala ia di luar rumah. Ini merupakan kaidah yang baku.
Rahasia kaidah ini adalah karena
seseorang bisa menampak-nampakkan akhlak yang baik tatkala ia di luar rumah dan
ia bisa bersabar dalam menampakan akhlak yang baik tersebut karena waktu
pertemuannya dengan orang-orang di luar rumahnya hanyalah sebentar. Ia bertemu
dengan seseorang setengah jam, dengan orang yang kedua selama satu jam, dan
dengan orang yang ketiga lebih cepat atau lebih lama, sehingga ia mampu sabar
berhadapan dengan mereka dengan menampak-nampakan akhlak yang baik dan sosok
palsunya yang bukan sosok aslinya sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian
pegawai…akan tetapi ia tidak mampu bertahan di atas kepribadian yang bukan asli
di rumahnya sepanjang hidupnya…
Akhlak asli seseorang bisa
diperiksa tatkala ia di rumahnya, di situlah akan tampak sikap kerasnya dari
sikap kelembutannya, terungkap sikap pelitnya dari sikap kedermawanannya,
terungkap sikapnya yang terburu-buru dari sikap kesabarannya, bagaimanakah ia
bermu’amalah dengan ibunya dan ayahnya??
Betapa banyak sikap durhaka di zaman ini..!!!
Betapa banyak sikap durhaka di zaman ini..!!!
Maka kenalilah (hakikat) dirimu
di rumahmu !!, bagaimanakah kesabaranmu tatkala engkau menghadapi
anak-anakmu??, tatkala menghadapi istrimu??, bagaimana kesabaranmu menjalankan
tanggung jawab rumah tangga??.
(Dan camkanlah bahwa) orang yang
tidak bisa mengatur rumah tangganya bagaimana ia bisa memimpin umat??, inilah
rahasia sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “Sebaik-baik kalian adalah
yang terbaik bagi istrinya”…)) (Al-Mau’idzoh Al-Hasanah hal 77-79)
BAGIAN 4
Seorang muslim –siapapun juga
orangnya- tidak akan bisa memperoleh sifat yang mulia di tengah-tengah
masyarakat kaum muslimin kecuali jika setelah mampu untuk bermu’amalah dengan
baik di keluarganya. Hal ini dikarenakan keluarga merupakan bagian terkecil
dalam masyarakat, jika ia mampu untuk bermu’amalah dengan baik di keluarganya
maka seakan-akan hal ini merupakan persaksian baginya bahwa ia telah siap
(ahli) untuk menjadi bagian yang bermanfaat bagi masyarakat. (Al-Asaaliib
An-Nabawiyah fi mu’aalajah al-musykilah az-zaujiyah hal 17)
Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, “Sikap engkau terhadap istrimu hendaknya
sebagaimana harapan engkau akan sikap suami putrimu sendiri. Maka sikap
bagaimanakah yang kau harapkan dari lelaki tersebut untuk menyikapi
putrimu??, apakah engkau ridho jika ia menyikapi putrimu dengan kasar dan
kaku?.
Jawabannya
tentulah tidak. Jika demikian maka janganlah engkau menyikapi putri orang lain
dengan sikap yang engkau tidak ridho jika diarahkan kepada putrimu sendiri. Ini
merupakah kaidah yang hendaknya diketahui setiap orang….”
(Asy-Syarhul Mumti’ XII/381)
Oleh karena itu penulis mencoba
untuk mengingatkan diri penulis pribadi dan juga kepada kaum muslimin untuk
berusaha menjadi orang yang terbaik bagi istri-istri mereka.
BAGIAN 5
Wasiat untuk
Memperhatikan Para Wanita
Rasulullah shallahu ‘alaihi wa
sallam berwasiat Kepada Para Suami Untuk Memperhatikan Para Wanita
Rasulullah shallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
اِسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ
ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ
تُقِيْمُُه كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوْا
بِالنِّسَاءِ
“Berwasiatlah
untuk para wanita karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk
dan yang paling bengkok dari bagian tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika
engkau ingin meluruskan tulang rusuk tersebut maka engkau akan mematahkannya,
dan jika engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok, maka berwasiatlah
untuk para wanita” (HR Al-Bukhari III/1212 no 3153 dan V/1987 no 4890 dari hadits
Abu Hurairah)
Makna dari sabda Rasulullah
shallahu ‘alaihi wa sallam “Berwasiatlah untuk para wanita” ada beberapa makna,
diantaranya:
1.
Ada yang mengatakan maknanya adalah “Hendaknya kalian saling berwasiat untuk
memperhatikan dan menunaikan hak-hak para wanita”
2.
Ada yang mengatakan maknanya adalah “Hendaknya kalian meminta wasiat dari diri kalian sendiri atau dari
orang lain untuk menunaikan hak-hak para wanita”. Sebagaimana seseorang
yang ingin menjenguk saudaranya yang sakit maka disunnahkan baginya untuk
berwasiat, dan berwasiat kepada wanita perkaranya lebih ditekankan lagi
mengingat kondisi mereka yang lemah dan membutuhkan orang lain yang mengerjakan
urusan mereka.
3.
Ada yang mengatakan maknanya adalah “Terimalah wasiatku (Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam) tentang para
wanita dan amalkanlah wasiat tersebut, bersikap lembutlah kepada mereka dan
gaulilah mereka dengan baik”. (Pendapat yang terakhir inilah yang menurut
Ibnu Hajar lebih tepat (Al-Fath VI/368))
Inti dari ketiga penafsiran di
atas adalah hendaknya para suami memberikan perhatian yang serius dalam
bersikap baik kpd wanita.
Wanita adalah makhluk yang lemah
yang sangat membutuhkan kasih sayang dari suaminya, membutuhkan perhatian khusus, oleh karena itu
Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam membuka wasiatnya dengan sabdanya
((Berwasiatlah untuk para wanita)) dan menutup wasiatnya dengan
mengulangi sabdanya ((Berwasiatlah untuk para wanita)) untuk menegaskan hal
ini.
Rasulullah shallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda –tatkala haji wada’-
أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ
عِنْدَكُمْ
“Hendaknya
kalian berwasiat yang baik untuk para wanita karena mereka sesungguhnya
hanyalah tawanan yang tertawan oleh kalian” (HR At-Thirmidzi no 1163,
Ibnu Majah no 1851 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Berkata Asy-Syaukani, “Maksudnya bahwasanya hukum para wanita
seperti hukum para tawanan…dan seorang tawanan tidak bisa membebaskan dirinya
tanpa idzin dari yang menawannya, demikianlah (kondisi) para wanita”. Hal
ini didukung dengan hadits
إِنَّمَا الطَّلاَقُ لِمَنْ أَخَذَ بِالسَّاقِ
((Sesungguhnya perceraian berada
di tangan yang memegang betis)).[ HR Ibnu Majah no 2081 dan dihasankan oleh
Syaikh Al-Albani (lihat Al-Irwa’ no 2041).
Maksud dari (memegang betis)
adalah kinayah dari jimak. Artinya perceraian itu berada di tangan suami (Syarh
Sunan Ibni Majah karya As-Suyuthi I/151)]
Maka wanita tidak memiliki
kekuasaan untuk membebaskan dirinya dari suaminya kecuali ada dalil yang
menunjukan akan bolehnya hal itu misalnya karena kondisi suami yang tidak mampu
memberi nafkah atau adanya aib pada suami yang membolehkan untuk pembatalan
akad nikah dan demikian juga jika sang wanita benar-benar sangat membenci sang
suami…( Asy-Syaukani menyebutkan adanya khilaf dalam poin yang terakhir ini)”
(Nailul Author VII/135)
Terkadang seorang wanita
dizholimi oleh suaminya…hak-haknya tidak ditunaikan oleh suaminya…omelan-omelan
menjadi santapannya sehari-hari, tamparan demi tamparan ia rasakan…namun ia tak
kuasa untuk memisahkan dirinya dari suaminya…
Apalagi jika sang wanita telah
mencapai usia yang agak tua…jika ia meminta cerai maka siapakah yang akan
menggantikan posisi suaminya kelak…, batinnya berkata “Apakah ada laki-laki
yang mau menikah denganku yang sudah tua ini”??? Kesedihan dan ketakutan terus
menyelimutinya….
Terkadang meskipun suaminya
selalu mendzoliminya namun ia tak kuasa berpisah dari suaminya itu…cintanya
terlalu dalam kepada suaminya…ia hanyalah tawanan suaminya yang diperlakukan
seenak suaminya…hanya kepada Allah-lah ia mengadukan penderitaannya…!!!!!
Oleh karena itu hendaknya para
suami bertakwa kepada Allah…takut kepada Allah tatkala menunaikan kewajibannya
kepada para wanita… hendaknya tatkala mereka bermuamalah dengan istri-istri
mereka mengingat wasiat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
Rasulullah shallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda –tatkala haji wada’ mengingatkan para sahabatnya-
فَاتَّقُوْا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ
بِأَمَانِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ
“Bertakwalah
kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya
telah mengambil mereka dengan amanah[1] Allah dan kalian menghalalkan kemaluan
mereka dengan kalimat Allah” (HR Muslim II/889 no 1218)
Berkata Imam An-Nawawi, “Hadits ini menganjurkan untuk memperhatikan
hak-hak para wanita dan wasiat (untuk berbuat baik) kepada mereka serta untuk
mempergauli mereka dengan baik. Telah datang hadits-hadits yang banyak yang
shahih tentang wasiat tentang mereka dan penjelasan akan hak-hak mereka serta
peringatan dari sikap kurang dalam hal-hal tersebut (menunaikan hak-hak
mereka)” (Al-Minhaj VIII/183)
Sebagian ulama menyatakan bahwa meninggalkan hak-hak istri dosanya lebih besar daripada dosa karena meninggalkan penunaian hak-hak suami. Karena seorang suami jika istrinya tidak menunaikan hak-haknya maka ia bisa saja menceraikannya atau ia mampu untuk bersabar karena tubuhnya yang kuat dan pribadinya yang kuat. Berbeda dengan seorang wanita yang dizolimi oleh suaminya, hak-haknya tidak ditunaikan oleh suaminya, maka ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis, hatinya lemah. Wanita yang keadaannya seperti ini merasa bahwa ia telah gagal dalam kehidupannya, ia hanya bisa mengeluhkan kesedihannya kepada Allah, terkadang ia tidak mampu untuk berdo’a kepada
Allah untuk membalas kezoliman
suaminya karena kecintaannya kepada suaminya. (Ceramah Syaikh Muhammad Mukhtaar
Asy-Syinnqithi yang berjudul “Fiqhul Usroh”)
Bertakwalah wahai para
suami..!!!, takutlah kepada Allah..!!!, tunaikanlah hak-hak istri-istri
kalian…!!!
Hendaknya para suami menyadari
bahwa kodrat wanita diciptakan dengan penuh kekurangan, maka janganlah ia
mengharapkan kesempurnaan dari seorang wanita.
Rasulullah shallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ
عَلَى طَرِيْقَةٍ، فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ
وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا
“Sesungguhnya
wanita diciptakan dari tulang rusuk dan ia (seorang wanita) tidak akan lurus
bagimu di atas satu jalan, maka jika engkau menikmatinya maka engkau akan
menikmatinya dan pada dirinya ada kebengkokan, dan jika engkau meluruskannya
maka engkau akan mematahkannya. Dan patahnya wanita adalah menceraikannya.” (HR
Muslim II/1091 no 1468)
Berkata Ibnu Hajar, “Sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam
((Wanita diciptakan dari tulang rusuk)),…dikatakan bahwa ini merupakan isyarat
bahwasanya Hawwa’ diciptakan dari tulang rusuk Adam yang sebelah kiri”
[Fathul Bari VI/368. An-Nawawi berkata, “Dikatakan bahwa Hawwa diciptakan dari
tulang rusuk Adam sebelum masuk ke dalam surga maka lalu keduanya masuk ke
dalam surga. Dikatakan juga bahwa Hawwa diciptakan tatkala Adam telah masuk
dalam surga” (Al-Minhaj X/59)]. Hal ini sesuai dengan firman Allah
خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا
(الزمر : 6 )
Dia menciptakan kamu dari seorang
diri (Adam) kemudian Dia jadikan daripadanya isteriya (Hawwa’) (QS. 39:6)
(Lihat penjelasan Asy-Syaukani dalam Nailul Author VI/358)
Tatkala wanita asal penciptaannya
dari tulang rusuk maka sifat-sifatnya seperti tulang rusuk. Rasulullah shallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا وَإِنِ
اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ
“Wanita
seperti tulang rusuk, jika engkau luruskan maka engkau akan mematahkannya dan
jika engkau menikmatinya maka engkau menikmatinya dan pada dirinya kebengkokan” (HR
Al-Bukhari V/1987 no 4889)
Berkata Ibnu Hajar (mengomentari
hadits yang sebelumnya), “Maknanya bahwa para wanita diciptakan asalnya adalah
diciptakan dari sesuatu yang bengkok, dan ini tidaklah menyelisihi hadits yang
lalu bahwasanya wanita diserupakan dengan tulang rusuk. Bahkan diambil faedah
dari hal ini titik penyerupaannya yaitu bahwasanya wanita bengkok seperti
tulang rusuk karena asal pencipataannya adalah dari tulang rusuk” (Fathul Bari
IX/253)
Berkata Ibnu Hajar, “Faedahnya bahwasanya janganlah diingkari
kebengkokan seorang wanita, atau isyarat bahwa wanita tidak bisa diluruskan
sebagaimana tulang rusuk tidak bisa diluruskan” (Fathul Bari VI/368)
Tatkala seorang suami mengetahui
hal ini maka janganlah sampai ia mengharapkan seorang wanita akan menjadi lurus
seratus persen, karena bagaimanapun juga sholehnya wanita itu ia tetap saja
masih memiliki kebengkokan, dan janganlah seorang suami mengharapkan
kemustahilan dari istrinya…!!!
Berkata Asy-Syaukani, “Sebagai
peringatan bahwasanya seorang wanita akhlaknya bengkok dan tidak akan lurus
selamanya, maka barangsiapa yang berusaha untuk memaksakannya pada akhlak yang
lurus maka ia akan merusak wanita tersebut” (Nailul Author VI/358).
Rasulullah shallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
اِسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ
ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ
تُقِيْمُُه كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوْا
بِالنِّسَاءِ
“Berwasiatlah
untuk para wanita karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk
dan yang paling bengkok dari bagian tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika
engkau ingin meluruskan tulang rusuk tersebut maka engkau akan mematahkannya,
dan jika engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok, maka berwasiatlah
untuk para wanita” (HR Al-Bukhari III/1212 no 3153 dan V/1987 no 4890 dari hadits Abu
Hurairah)
Ibnu Hajar berkata, “Sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa
sallam ((dan yang paling bengkok dari bagian tulang rusuk adalah bagian
atasnya)), Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hal ini untuk
menegaskan makna akan benar-benar “patah”, karena penglurusan sangat nampak
pada bagian yang paling atas. Atau merupakan isyarat bahwa wanita diciptakan
dari bagian tulang rusuk yang paling bengkok dalam rangka untuk penekanan dan
penegasan bahwa wanita benar-benar memiliki sifat bengkok. Atau mungkin saja
maksudnya untuk menjelaskan bagian atas wanita, karena bagian atas wanita
adalah kepalanya dan pada kepalanya ada lidahnya dan dengan lisannya
tersebutlah timbul gangguan dari sang wanita” (Fathul Bari IX/253)
Seorang penyair berkata:
هِيَ
الضِّلَعُ الْعَوْجَاءُ لَسْتَ تُقِيْمُهَا
أَلاَ إِنَّ تَقْوِيْمَ الضُّلُوْعِ انْكِسَارُهَا
تَجْمَعُ ضَعْفًا وَاقْتِدَارًا عَلَى
الْفَتَى أَلَيْسَ
عَجِيْبًا ضَعْفُهَا وَاقْتِدَارُهَا
Wanita adalah rusuk yang bengkok yang tidak mungkin engkau luruskan
Ketahuilah bahwasanya meluruskan tulang rusuk berarti mematahkannya
Wanita menggabungkan antara kelemahan dan kekuatannya pada seorang pemuda
Bukankah merupakan hal yang ajaib
(terkumpulkannya) kelemahan dan kekuatan seorang wanita (pada diri seorang
pemuda)?
(Lihat sya’ir ini di Faidhul Qodiir I/503)
Namun bukan berarti seorang suami
membiarkan istrinya dalam kebengkokannya tanpa ada usaha sama sekali untuk
meminimalisir kebengkokan tersebut
Wajib bagi seorang suami untuk
mengarahkan istrinya kepada pendidikan agama dan pengamalan perintah-perintah
Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah. Jika kebengkokan sang istri membawa
sang istri hingga melakukan kemaksiatan atau meninggalkan kewajiban maka wajib
baginya untuk menasehati istrinya tersebut. Allah berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ
نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (التحريم : 6
)
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS.
66:6)
Namun ingat bahwasanya menasehati
seorang wanita harus dengan cara yang selembut-lembutnya.
Berkata Ibnu Hajar mengomentari sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hadits ((maka berwasiatlah kepada para wanita)), “Seakan-akan pada sabda beliau itu ada isyarat bahwasanya hendaknya tatkala meluruskan wanita harus dilakukan dengan lembut hingga tidak terlalu berlebih-lebihan yang mengakibatkan patahnya wanita tersebut, dan juga tidak dibiarkan begitu saja (tanpa ada usaha pemebenahan sama sekali) sehingga ia akan terus diatas kebengkokakannya.
Berkata Ibnu Hajar mengomentari sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hadits ((maka berwasiatlah kepada para wanita)), “Seakan-akan pada sabda beliau itu ada isyarat bahwasanya hendaknya tatkala meluruskan wanita harus dilakukan dengan lembut hingga tidak terlalu berlebih-lebihan yang mengakibatkan patahnya wanita tersebut, dan juga tidak dibiarkan begitu saja (tanpa ada usaha pemebenahan sama sekali) sehingga ia akan terus diatas kebengkokakannya.
Oleh karena itu Imam Al-Bukhari
melanjutkan setelah itu dengan bab yang berjudul “Jagalah diri kalian dan
keluarga kalian dari api neraka”. Faedah dari hal ini adalah hendaknya sang
suami tidak membiarkan istrinya di atas kebengkokannya jika ia telah melampaui
kekurangan tabi’atnya hingga melakukan kemaksiatan atau meninggalkan kewajiban.
Namun maksudnya adalah ia membiarkannya di atas kebengkokannya pada
perkara-perkara yang dibolehkan” (Fathul Bari IX/254)
BAGIAN 6
Kelembutan
kunci utama menghadapi wanita
Rasulullah bersabda
اِرْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ
“Lembutlah
kepada kaca-kaca (maksudnya para wanita)” (HR bukhari,muslim &
nasai)
Berkata Ibnu Hajar, “Al-Qowarir kata jamak dari singular
Qoruroh yang artinya adalah kaca…”
Berkata Romahurmuzi, “Para wanita dikinayahkan dengan kaca karena
lembutnya mereka dan lemahnya mereka yang tidak mampu untuk bergerak gesit. Para
wanita disamakan dengan kaca karena kelembutan, kehalusan, dan kelemahan
tubuhnya”…
Yang lain berkata bahwasanya para wanita disamakan dengan kaca
karena begitu cepatnya mereka berubah dari ridho menjadi tidak ridho dan tidak
tetapnya mereka (mudah berubah sikap dan pikiran) sebagaimana dengan kaca yang
mudah untuk pecah dan tidak menerima kekerasan” (Fathul Bari X/545)
Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, “…Sebuah kata yang engkau ucapkan bisa
menjadikannya menjauh darimu sejauh bintang di langit, dan dengan sebuah kata
yang engkau ucapkan bisa menjadikannya dekat hingga di sisimu” (Asy-Syarhul
Mumti’ XII/385)
Berkata Al-Qodhi ‘Iyadh, “Para wanita disamakan dengan kaca karena
lemahnya hati mereka” (Masyariqol Anwaar II/177).
Demikianlah…Allah telah
menciptakan wanita dengan penuh kelembutan dan kelemahan. Hati mereka lemah
sehingga sangat perasa. Mudah tersinggung…namun senang dipuji. Mudah berburuk
sangka, mudah cemburu, mudah menangis, demikianlah wanita.
Sikap para wanita begitu cepat
berubah terhadap sikap suami mereka…terkadang hari ini ridho dengan sikap
suaminya, besok hari marah dan tidak ridho, apalagi jika sang suami melakukan
kesalahan!
Rasulullah bersabda,
لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى
إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ
خَيْرًا قَطٌ
“Seandainya
engkau berbuat baik pada salah seorang istri2mu
sepanjang umurmu kemudian dia melihat suatu (yang tidak disukainya)
darimu maka ia akan berkata, “Aku sama sekali tidak pernah kebaikan darimu” (HR
Al-Bukhari I/19 no 29 dan Muslim II/626 no 907)
BAGIAN 7
Basa-basi
sangat diperlukan dalam menghadapi wanita
Hendaknya seorang suami pandai
bersiasat dan berstrategi dalam bergaul dengan istrinya hingga menarik hatinya.
Berkata Ibnu Hajar, “Hadits ini menunjukan akan dianjurkannya
untuk berbuat mujamalah (berbasa-basi) untuk menarik hati para wanita dan
melembutkan hati mereka. Hadits ini juga menunjukan siasat dalam menghadapi
wanita yaitu dengan memaafkan mereka serta sabar dalam menghadapi kebengkokan
mereka. Dan barangsiapa yang berharap selamatnya para wanita dari kebengkokan
maka ia tidak akan bisa mengambil manfaat dari mereka, padahal seorang pria
pasti membutuhkan seorang wanita yang ia merasa tentram bersamanya dan
menjalani hidup bersamanya. Seakan-akan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Tidaklah sempurna menikmati (bersenang-senang) dengan seorang
wanita kecuali dengan bersabar menghadapinya” (Fathul Bari IX/254)
Berkata Imam An-Nawawi, “Hadits ini menunjukan sikap berlemah lembut
terhadap para wanita, bersikap baik kepada mereka, sabar menghadapi bengkoknya
akhlak mereka, sabar menghadapi lemahnya akal mereka, dan dibencinya
menceraikan mereka tanpa ada sebab, serta janganlah berharap lurusnya seorang
wanita” (Al-Minhaj X/57)
Oleh karena itu sikap basa-basi
dihadapan wanita sangatlah diperlukan untuk menundukannya, bahkan hal ini
disunnahkan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أََلآ إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَأَنَّكَ إِنْ تُرِدْ
إِقَامَتَهَا تَكْسِرْهَا فَدَارِهَا تَعِشْ بِهَا
“Ketahuilah
bahwasanya wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan jika engkau ingin untuk
meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, oleh karenya barbasa-basilah
niscaya engkau akan bisa menjalani hidup dengannya” (HR Al-Hakim
di Al-Mustadrok IV/192 no 7333, Ibnu Hibban (Al-Ihsan IX/485) no 4178,
Ad-Darimi II/198 no 2221 dari hadits Samuroh bin Jundaub. Dishahihkan oleh
Syaikh Al-Albani (Lihat Shahihul Jami’ no 1944))
BAGIAN 8
"Pandanglah
Wanita dengan Adil; Dusta yang Seperti Apa yang dibolehkan?"
Jangan memandang
keburukan-keburukan wanita saja, namun lihatlah juga kelebihan-kelebihan yang
dimilikinya
Hendaknya sang suami mengingat
kebaikan-kebaikan istrinya, mengingat kelebihan-kelebihan yang dimiliki
istrinya terutama tatkala sang suami sedang marah…sesungguhnya hal ini
membantunya untuk meredakan kemarahannya dan melatihnya berbuat adil tatkala
menghukumi sikap istrinya.
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Hendaknya seseorang tidak marah karena
segala perkara karena pasti akan timbul kekurangan (kesalahan). Bahkan ia
sendiri mesti berbuat kesalahan, dan tidaklah benar bahwasanya ia sempurna
dalam segala hal. Jika demikian maka istrinya lebih utama untuk melakukan
kesalahan. Dan juga wajib bagi seseorang untuk menimbang keburukan-keburukan
dengan kebaikan-kebaikan. Sebagian istri jika suaminya sakit maka ia tidak akan
tidur semalam suntuk untuk menjaga suaminya, ia juga taat kepada suaminya dalam
banyak perkara. Kemudian jika sang suami menceraikannya maka kapan ia akan
nikah lagi?, jika ia nikahpun bisa jadi ia akan mendapati istri yang lebih
buruk dari istri yang sebelumnya” [Asy-Syarhul Mumti’ XII/385]
Rasulullah shallallahu 'alihi wa
sallam bersabda,
لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ
مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah
seorang mukmin benci kepada seorang wanita mukminah (istrinya), jika ia
membenci sebuah sikap (akhlak) istrinya
maka ia akan ridho dengan sikapnya (akhlaknya) yang lain” [HR
Muslim II/1091 no 1469 dan الفَرْكُ maknanya adalah (البُغْضُ) benci (Lihat
Al-Minhaj X/58)]
Berkata An-Nawawi, “Yang benar adalah Rasulullah shallallahu
'alihi wa sallam melarang, yaitu hendaknya dia tidak membencinya karena jika
mendapati sikap (akhlak) yang dibencinya pada istrinya maka ia akan mendapati
sikapnya yang lain yang ia ridhai. Misalnya wataknya keras namun ia wanita yang
taat beribadah, atau cantik, atau menjaga diri.
BAGIAN 9
Suami yang paling sedikit
mendapat taufiq dari Allah dan yang paling jauh dari kebaikan adalah seorang
suami yang melupakan seluruh kebaikan-kebaikan istrinya, atau pura-pura
melupakan kebaikan-kebaikan istrinya dan menjadikan kesalahan-kesalahan istrinya
selalu di depan matanya. Bahkan terkadang kesalahan istrinya yang sepele
dibesar-besarkan, apalagi dibumbui dengan prasangka-prasangka buruk yang
akhirnya menjadikannya berkesimpulan bahwa istrinya sama sekali tidak memiliki
kebaikan.
Tatkala seorang suami marah
kepada istrinya maka syaitan akan datang dan menghembuskan kedalam hatinya dan
membesar-besarkan kesalahan istrinya tersebut. Syaitan berkata, “Sudahlah
ceraikan saja dia, masih banyak wanita yang sholehah, cantik lagi…, ayolah
jangan ragu-ragu…”.
Syaitan juga berkata, “Cobalah
renungkan jika engkau hidup dengan wanita seperti ini…., bisa jadi di kemudian
hari ia akan lebih membangkang kepadamu..”. Atau syaitan berkata, “Tidaklah
istrimu itu bersalah kepadamu kecuali karena ia tidak menghormatimu…atau kurang
sayang kepadamu, karena jika ia sayang kepadamu maka ia tidak akan berbuat
demikian…”. Dan demikanlah bisikan demi bisikan dilancarkan syaitan kepada para
suami. Yang bisikan-bisikan seperti ini bisa menjadikan suami melupakan
kebaikan-kebaikan istrinya yang banyak yang telah diterimanya. Jika sang suami
telah melupakan kebaikan-kebaikan yang lain yang dimiliki isrinya maka
sesungguhnya ia telah menyamai sifat para wanita yang suka melupakan
kebaikan-kebaikan suaminya !!!.
BAGIAN 10
Suami dibolehkan berbohong kepada
istrinya jika ada kemaslahatannya selama tidak menjatuhkan hak sang istri
Syari’at sangat memperhatikan
keutuhan rumah tangga, sangat memperhatikan terjalinnya kasih sayang diantara
dua sejoli, sampai-sampai syari’at membolehkan seorang suami berbohong kepada
istrinya atau sebaliknya –selama masih dalam batasan-batasan yang dibolehkan-
demi untuk menjaga ikatan kasih sayang diantara mereka berdua.
Rasulullah shallallahu 'alihi wa
sallam bersabda
لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ
“Tidaklah
halal dusta kecuali pada tiga perkara, seorang suami berbohong kepada istrinya
untuk membuat istrinya ridho, berdusta tatkala perang, dan berdusta untuk
mendamaikan (memperbaiki hubungan) diantara manusia” [HR
At-Thirmidzi IV/331 no 1939 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani kecuali lafal
(Untuk membuat istrinya ridho)]
Berkata Ibnu Syihab, “Dan aku tidak pernah mendengar dibolehkan
berdusta dari perkataan manusia kecuali pada tiga perkara, perang, mendamaikan
diantara orang-orang (yang bertikai), dan perkataan seorang lelaki kepada
istrinya dan perkataan seorang wanita kepada suaminya” [Atsar riwayat
Muslim di shahihnya IV/2011 no 2605]
Para ulama berbeda pendapat
tentang makna dusta yang dibolehkan. Ada yang berpendapat bahwa dusta tersebut
adalah dusta yang hakiki, karena dusta yang diharamkan adalah yang memberi
mudhorot bagi kaum muslimin adapun dusta yang dibolehkan adalah yang ada
maslahatnya bagi kaum muslimin, dan penyebutan tiga perkara di atas adalah
hanya sebagai permisalan saja.[ Al-Fath V/300.]
Pendapat kedua menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan dusta yang diperbolehkan adalah tauriyah/ta’riidh
(mengucapkan kalimat yang benar dan bukan dusta namun dengan tujuan agar sang
pendengar memahami makna yang lain) dan bukanlah dusta yang hakiki. [Al-Minhaaj
XVI/158, Umdatul Qori XIII/269]
Imam An-Nawawi berkata, “Yang dzohir adalah bolehnya dusta secara
hakiki pada tiga perkara tersebut, akan tetapi at-ta’riidh lebih utama”, dan
inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Hajar dan beliau membantah pendapat yang
menyatakan bahwa yang dimaksud dengan dusta di sini adalah ta’riid (tauriyah). [Al-Fath VI/159-160]
Akan tetapi bolehnya dusta antara
suami dan istri ada batasannya yaitu dengan syarat tidak boleh
sampai tingkat menjatuhkan hak
salah seorang dari keduanya.
Berkata Al-Qodhi ‘Iyadh, “Adapun penipuan (kedustaan) untuk
menghalangi hak suami atau hak istri atau agar suami mengambil apa yang bukan
haknya atau sang istri mengambil apa yang bukan haknya maka hal ini adalah
haram berdasarkan ijmak (kesepakatan para ulama)” [Umdathul Qoori
XIII/270, demikian juga Ibnu Hajar menyampaikan kesepakatan ini (Al-Fath
V/300)].
Namun dibolehkannya dusta antara
suami istri maksudnya adalah demi menjaga kasih sayang diantara mereka.
Berkata An-Nawawi, “Adapun seorang suami berdusta kepada
istrinya dan demikian juga seorang istri berdusta kepada suaminya, maksudnya
adalah dalam rangka menampakan rasa kasih sayang atau untuk menjanjikan sesuatu
yang tidak lazim untuk ditunaikan dan yang semisalnya” [Al-Minhaj XVI/158]
Misalnya seorang suami tatkala
memakan masakan istrinya kemudian dia mendapati masakannya kurang lezat, dan
biasanya seorang istri jika melihat suaminya makannya kurang selera maka ia
akan bertanya, “Makanannya kurang enak ya ?”, maka dalam kondisi seperti ini
maka dibolehkan bagi sang suami untuk berdusta agar tidak menjadikan sang istri
bersedih dan marah sehingga rengganglah cinta kasih diantara keduanya.
Hendaknya sang suami berkata, “Maasya Allah masakannya lezaaat…”
Akan tetapi yang perlu diingat
janganlah sampai suami menjadikan dusta kepada istrinya merupakan pekerjaannya
sehari-hari, akan tetapi hendaknya ia berdusta tatkala benar-benar dibutuhkan
dan jelas kemaslahatannya.
(Dicopas dari Kajian Ust. Sulaiman Abu Syaikha melalui BBM).







0 Response to "UNTUK PARA SUAMI SEJATI"
Posting Komentar